elegi di titik nol jogja, 2006
hingar nyanyi yang bingar
ditahan sunyi redup mata
ada yang menahan tangis,
oh lapar…….
menggapai – gapai kaki – kaki langit
oh lapar…….
telinga – telinga dipanggil tuli
hiba ditampar ujung mata
dan sebungkus nasi,
adalah kumpulan – kumpulan
mimpi debu trotoar
sejatinya ini adalah elegi
untuk proletar – proletar
kaum urban miskin kota,
para tukang rumus kode buntut
anak – anak lampu merah
perempuan – perempuan
diremang lampu merahhijau 5 watt
penunggu – penunggu pagi
wajah – wajah ditiap detik
dalam kurungan lalat
sejatinya ini adalah elegi
untuk bapak yang beri api
untuk bunda yang kenalkan zaman
untuk adinda yang kikuk di depan tv
untuk sobat – sobat di jalan terjal,
sejatinya ini adalah elegi
untuk aku yang sibuk menajamkan nyali
untuk aku yang jadi penyaksi
untuk aku yang gegar dibentur ragu
untuk aku yang merasa mampu bertarung
berapa lagi air mata kau pinta
cuma akan menguap
……………………………
suara – suara seperti tangis ngalir di ruang hampa
tak terdengar…………
tak didengar………….
labirin – labirin tanpa peta
………………………..
kumohon hentilah sejenak……
ada nganga – nganga luka tertawa
ha……ha…haha……….ha…ha32x…hah…hah…hah
di titik nol ada yang mati perlahan
matanya cekung hitam,
setumpuk literature tentang alienasi kaum urban,
menggumpal jalan darah…………
iblis manakah yang lebih mengerti aku
ajak aku berduaan malam ini saja
aku berduka
( wien, kepada mereka aku datang,
jenguk sisi – sisi negeri yang sarat ketidakpastian jogja at ground zero )
Minggu, 01 November 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar